Aku tak akan meminjam bulan,bintang,matahari dan teman-temannya saat ini..
akan kubiarkan mereka beristirahat karena begitu banyaknya manusia menculik mereka kedalam kata-kata mutiara...mereka pasti lelah.
Aku akan membuka memoriku sajah untuk mengungkapkan berjuta rasa dihatiku malam ini..seperti aku merindukan ayunan strawberyku rasa kangenku padamu..
seperti aku menunggu oleh-oleh kue bola dari papa saat aku menunggu hadirmu...
seperti menunggu hari esok untuk lomba menari saat tak bisa tidur karenamu...
kamu, kamu seperti alasan-alasan yang membuatku senang saat aku masih kecil...kamu,
kamu seperti sebuah kejutan dihari ulang tahunku dahulu..
kamu,kamu seperti guling kesayangan yang ingin selalu kubawa kemana-mana...kamu..
hhmmm kamu seperti lagu nina bobo semasa dulu..dan kamu seperti susu pagi yang selalu kutunggu kirimanya didepan pintu sebelum berangkat kesekolah...kamu, kamu..membuatku merasa memiliki semangad untuk semakin bertumbuh seperti keinginanku semasa itu...
kamu, selalu menjadi yang spesial seperti kado dari ibuku...
aku suka kamu...
11/20/2009
Demi Tuhan..hanya itu yang aku inginkan..
semakin dalam aku menggali rasa keingintahuanku
semakin sering aku melihatnya
semakin jauh aku mengenalnya
sakit
begitu banyak malaikat datang dan pergi dalam hidupmu
begitu juga beratnya tanggung jawabmu
aku
apa harus menutup mata dan pura-pura tak tahu
atau aku tahu tapi aku tak mau tahu
aku ini terdakwa, tertuduh
dan kenapa harus aku ?
bolehkah aku bertanya padaMu Tuhan
dan berilah jawaban segera
*memang aku sedikit memaksa*
untuk apa aku disini
untuk dia?
bukankah dia sungguh sudah berlebih?
aku bingung, sungguh sangat
rasa cinta,sakit,bermimpi, tak punya harapan
berbaur menjadi satu kesatuan
apa permintaanku terlalu tinggi..
demi Tuhan..jika ini tidak tepat
aku harus berbelok kemana
sebelum pendakian hayalanku terlalu tinggi
dan sesak sampai puncak
aku hanya ingin teduh
jika bersamamu pun
Demi Tuhan...hanya itu yang aku inginkan
semakin sering aku melihatnya
semakin jauh aku mengenalnya
sakit
begitu banyak malaikat datang dan pergi dalam hidupmu
begitu juga beratnya tanggung jawabmu
aku
apa harus menutup mata dan pura-pura tak tahu
atau aku tahu tapi aku tak mau tahu
aku ini terdakwa, tertuduh
dan kenapa harus aku ?
bolehkah aku bertanya padaMu Tuhan
dan berilah jawaban segera
*memang aku sedikit memaksa*
untuk apa aku disini
untuk dia?
bukankah dia sungguh sudah berlebih?
aku bingung, sungguh sangat
rasa cinta,sakit,bermimpi, tak punya harapan
berbaur menjadi satu kesatuan
apa permintaanku terlalu tinggi..
demi Tuhan..jika ini tidak tepat
aku harus berbelok kemana
sebelum pendakian hayalanku terlalu tinggi
dan sesak sampai puncak
aku hanya ingin teduh
jika bersamamu pun
Demi Tuhan...hanya itu yang aku inginkan
Surat dari perempuanmu
Sepertinya ada benteng yang begitu tinggi diantara saya dan kamu, dan itu semakin lama semakin berasa juga mengganggu. Kamu punya privasi yang sama sekali tidak bisa diganggu gugat, sedang saya tidak memilikinya, atau kamu tidak mengijinkan saya untuk memiliki privasi itu. Terlalu banyak hal yang membuat saya ingin meninggalkan semua ini, tapi kamu adalah banyak hal yang juga membuat saya takut meningalkan semua ini. Tolong, saya tidak ingin memikirkan ini sampai pagi lagi..karena saya dan kamu juga tidak saling bicara. Dan jangan mengeluhkan tentang saya, karena saya tidak pantas untuk dikeluhkan. Saya hanya berusaha menumpahkan segala kekesalan dan kemarahan saya, bukan untuk dijadikan yang paling no satu. Saya hanya ingin kamu mengerti sepert saya, kuatir seperti saya, tulus seperti saya, dan tentunya melengkapi saya.
-perempuanmu-
-perempuanmu-
...tidak pernah selesai
~ Seorang jejaka yang dimabuk cinta duduk merentang kaki dan berkata dengan keras, “cinta adalah kekuatan yang telah disabda Tuhan, sehingga gunung-gunung tinggi akan merendah karenanya, sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan. Karena kalah bercinta maka ia akan terusir dari hatinya.” (Serat Joko Lodhang-184 M) ~
Hmm ingin rasanya membacakan buku-buku ini untukmu Hubby, betapa kamu tahu kisah cinta anak manusia sudah begitu melekat sejak adanya jaman, coretan-coretan indah para Empu pada Ron seakan tak cukup untuk diterjemahkan semalaman dibawah pohon randu dengan secangkir kopi tubruk dari warteg sebelah. ”Kamu memang telah banyak menemukan berbagai macam Kopi disana, tapi kamu belum pernah menikmati kopi yang sangat harum sesedap senyum mbak-mbak warteg yang sedang diapelin satpam sebelah.
~
Jika dibayangkan, kamu duduk menyimak dibawah pohon randu dengan ron-ron berjatuhan oleh semilir angin, suaraku yang mendayu-dayu bak tembang ’Lalitavistara’ mulai membiusmu kedalam hayalan kisah Saraswatyai. Dewi dengan tabir cintanya yang penuh filosofis, sesekali terdengar kamu menyeruput nikmat kopi si mbakyu tadi bby.
Tak dinyana diujung sana sang purnama mengurai senyum, cekiki’an mendengar sebutanmu dariku.
”Empu Kolong Langit tak pernah kehabisan pitutur, apalagi hanya untuk menciptatan sebuah asmo ingkang bagus kagem kangmas...*lagi-lagi sambil cekiki’an* asmo Jawa ora bakal kenthe’an adat nduk, lha kok sliramu malah bangga karo asmo Londo”. Mendengar ocehan Bulan yang lengkap dengan lukisan kelincinya hatiku tertawa geli, kenapa bulan bisa sedetail itu tapi aku pura-pura menjawab seperti anak pinter ”Hai Bulan yang mengintip tanpa permisi, tahukah kau bahasa Inggris? Hubby berarti Hunny Bunny nan berarti orang yang disayangi? Dan kalimat sapaan ini cukup simpelkan?tanyaku lagi. Tapi Bulan tak berguman, hanya cahayanya semakin terang seakan memenuhi segala makhluk dengan gemilang.
Kita berdua, aku dan kamu jadi berdiam diri dilincak bambu yang warnanya mulai kusam. Semilir bayu masih berhembus, wajahku bak dibebani duka cita dan ketololan apalagi disebelahku tampak asik sier-sier tanpa rasa keingintahuan apakah hal yang membuatku sepi.
Yang tadinya membara kini gelap gulita, diri terikat tanpa larik-lirik syair lagi. Menatap penuh pertanyaan mengapa Kodok tak bisa menikmati wanginya bunga tanjung meskipun bermalam-malaman tinggal ditempat yang sama, mengapa sang Kodok juga tak bisa melihat keindahan bunga teratai?
Dan jawaban yang kutemukan adalah...Aku tak ubahnya seperti kodok itu.
Bukan hanya merasakan diri tak ubahnya bagai kodok, tapi juga terkadang berubah menjadi Kerbau yang dungu ditaman Bidadari, meski indahnya memercik kesegenap penjuru tapi aku merasa tak memilikinya.
~
Menatap garis wajahnya yang bertengger di batang randu, seakan pergi ke Firdaus membawa kegundahan tadi sembari diiringi petikan siter oleh Yugho sang Dalang.
Entah angin apa yang membawaku menjadi prajurit perkasa yang setiap saat legowo membelamu padahal parasku bak juwita memikat. Legowo menggapai pengetahuan sing bener-bener enggal, waduh Gusti kalau semangat ini dibunuh, tentu saja akan hancur lebur luluh lantak membuat badan lesu tho Gusti Pangeran. Seakan perjalanan ke Nirwana terselimuti was-was, kebingungan antara gairah dan kepupusan, dadaku terpegang erat-erat dimanjakan karena takut bahaya menggoncang! bahaya yang menggoncang isinya "sing jero pisan". KarmendriyaKu, jalan menuju sukmaku sudah ditengah-tengah...jadi jangan digagalkan Gusti.
~
Sambil mengawang, aku laksana terbang dan tenggelam pada lautan cinta yang membara. Siapa setiap Insan yang tidak ingin menjaga 'jerohan hatinya', apapun bentuknya kalau sudah tertanam dihalaman kalbu pasti akan dirumatnya. Menempuh jurang yang dalam, daratan yang luas atau sedemikian keraspun tantangan itu pasti akan aku lewati..bahkan saat aku memaksakan diri dengan bahasa terbata-bata mencoba menuliskan syair untukmu.
Kamu masih bersender dibatang Randu seperti malam, diam. Duh Gusti, semua hening seperti tirakat, lintang-lintang diangkasa bahkan tak takut dirinya dianggap kunang-kunang saking redupnya, tak ada terang temarang, cerlang cemerlang kian tak nampak lagi. Kesemua cahaya hanya berbinar dalam hati, tak lagi memenuhi segala makhluk. Ini bukan jaman kegelapan Kawula Gusti, hanya kecemasan sekejap seorang yang merasa menuju Firdaus dengan segudang pertanyaan. Sampai ketakutan jika sampai Firdaus aku lupa semua yang ingin aku tanyakan.
~
Oh Bumi, sudikah engkau menelanku dalam-dalam, segala sesuatu lebur, hilang bentuk, dan hilang rupa. Segala sesuatu yang tersimpan dalam batin habis Gusti, hati bagai tiada lagi pemimpin, saat menuju pengaduan hatiku 'Firdaus' dan aku menoleh sejenak kebawah, menengokmu. Tak salahkah paningalku ini Gusti, Dalem mersani 'Munyuk' gelantungan! iya, didahan Randu. Salahkah jika perumpamaanya adalah 'munyuk' atawa Monyet Gusti? bathenku sesek tenggelam dikekelaman hati Gusti...duh Biyuung, setelah tertatih bangkit dari aungan Macan dengan kekuatan Wisaya, sekarang malah terperangkap dalam kandang bermonyet.
Kini, setiap kata yang tergores, ungkapan-ungkapan yang aku catat timbul oleh perasaan cinta yang tercampur dengan kebingungan. Sayub-sayub selendang perjalananku merangkai pertanyaan, mengapa sang Guru besar mengatakan 'aku adalah tulang rusuk dari sang kekasih jiwa' lalu, apakah adinda ini tulang rusukmu yang terbuang?? dan menjadi serpihan-serpihan, laksana perahu diatas air, TUMPAH! perahu miring, berjalan goyang dengan ombak menerjang. "Aku..terbang dan terjatuh".
Apa aku harus kembali kebawah pohon Randu dengan rasa kalah dan malu?.
Hmm ingin rasanya membacakan buku-buku ini untukmu Hubby, betapa kamu tahu kisah cinta anak manusia sudah begitu melekat sejak adanya jaman, coretan-coretan indah para Empu pada Ron seakan tak cukup untuk diterjemahkan semalaman dibawah pohon randu dengan secangkir kopi tubruk dari warteg sebelah. ”Kamu memang telah banyak menemukan berbagai macam Kopi disana, tapi kamu belum pernah menikmati kopi yang sangat harum sesedap senyum mbak-mbak warteg yang sedang diapelin satpam sebelah.
~
Jika dibayangkan, kamu duduk menyimak dibawah pohon randu dengan ron-ron berjatuhan oleh semilir angin, suaraku yang mendayu-dayu bak tembang ’Lalitavistara’ mulai membiusmu kedalam hayalan kisah Saraswatyai. Dewi dengan tabir cintanya yang penuh filosofis, sesekali terdengar kamu menyeruput nikmat kopi si mbakyu tadi bby.
Tak dinyana diujung sana sang purnama mengurai senyum, cekiki’an mendengar sebutanmu dariku.
”Empu Kolong Langit tak pernah kehabisan pitutur, apalagi hanya untuk menciptatan sebuah asmo ingkang bagus kagem kangmas...*lagi-lagi sambil cekiki’an* asmo Jawa ora bakal kenthe’an adat nduk, lha kok sliramu malah bangga karo asmo Londo”. Mendengar ocehan Bulan yang lengkap dengan lukisan kelincinya hatiku tertawa geli, kenapa bulan bisa sedetail itu tapi aku pura-pura menjawab seperti anak pinter ”Hai Bulan yang mengintip tanpa permisi, tahukah kau bahasa Inggris? Hubby berarti Hunny Bunny nan berarti orang yang disayangi? Dan kalimat sapaan ini cukup simpelkan?tanyaku lagi. Tapi Bulan tak berguman, hanya cahayanya semakin terang seakan memenuhi segala makhluk dengan gemilang.
Kita berdua, aku dan kamu jadi berdiam diri dilincak bambu yang warnanya mulai kusam. Semilir bayu masih berhembus, wajahku bak dibebani duka cita dan ketololan apalagi disebelahku tampak asik sier-sier tanpa rasa keingintahuan apakah hal yang membuatku sepi.
Yang tadinya membara kini gelap gulita, diri terikat tanpa larik-lirik syair lagi. Menatap penuh pertanyaan mengapa Kodok tak bisa menikmati wanginya bunga tanjung meskipun bermalam-malaman tinggal ditempat yang sama, mengapa sang Kodok juga tak bisa melihat keindahan bunga teratai?
Dan jawaban yang kutemukan adalah...Aku tak ubahnya seperti kodok itu.
Bukan hanya merasakan diri tak ubahnya bagai kodok, tapi juga terkadang berubah menjadi Kerbau yang dungu ditaman Bidadari, meski indahnya memercik kesegenap penjuru tapi aku merasa tak memilikinya.
~
Menatap garis wajahnya yang bertengger di batang randu, seakan pergi ke Firdaus membawa kegundahan tadi sembari diiringi petikan siter oleh Yugho sang Dalang.
Entah angin apa yang membawaku menjadi prajurit perkasa yang setiap saat legowo membelamu padahal parasku bak juwita memikat. Legowo menggapai pengetahuan sing bener-bener enggal, waduh Gusti kalau semangat ini dibunuh, tentu saja akan hancur lebur luluh lantak membuat badan lesu tho Gusti Pangeran. Seakan perjalanan ke Nirwana terselimuti was-was, kebingungan antara gairah dan kepupusan, dadaku terpegang erat-erat dimanjakan karena takut bahaya menggoncang! bahaya yang menggoncang isinya "sing jero pisan". KarmendriyaKu, jalan menuju sukmaku sudah ditengah-tengah...jadi jangan digagalkan Gusti.
~
Sambil mengawang, aku laksana terbang dan tenggelam pada lautan cinta yang membara. Siapa setiap Insan yang tidak ingin menjaga 'jerohan hatinya', apapun bentuknya kalau sudah tertanam dihalaman kalbu pasti akan dirumatnya. Menempuh jurang yang dalam, daratan yang luas atau sedemikian keraspun tantangan itu pasti akan aku lewati..bahkan saat aku memaksakan diri dengan bahasa terbata-bata mencoba menuliskan syair untukmu.
Kamu masih bersender dibatang Randu seperti malam, diam. Duh Gusti, semua hening seperti tirakat, lintang-lintang diangkasa bahkan tak takut dirinya dianggap kunang-kunang saking redupnya, tak ada terang temarang, cerlang cemerlang kian tak nampak lagi. Kesemua cahaya hanya berbinar dalam hati, tak lagi memenuhi segala makhluk. Ini bukan jaman kegelapan Kawula Gusti, hanya kecemasan sekejap seorang yang merasa menuju Firdaus dengan segudang pertanyaan. Sampai ketakutan jika sampai Firdaus aku lupa semua yang ingin aku tanyakan.
~
Oh Bumi, sudikah engkau menelanku dalam-dalam, segala sesuatu lebur, hilang bentuk, dan hilang rupa. Segala sesuatu yang tersimpan dalam batin habis Gusti, hati bagai tiada lagi pemimpin, saat menuju pengaduan hatiku 'Firdaus' dan aku menoleh sejenak kebawah, menengokmu. Tak salahkah paningalku ini Gusti, Dalem mersani 'Munyuk' gelantungan! iya, didahan Randu. Salahkah jika perumpamaanya adalah 'munyuk' atawa Monyet Gusti? bathenku sesek tenggelam dikekelaman hati Gusti...duh Biyuung, setelah tertatih bangkit dari aungan Macan dengan kekuatan Wisaya, sekarang malah terperangkap dalam kandang bermonyet.
Kini, setiap kata yang tergores, ungkapan-ungkapan yang aku catat timbul oleh perasaan cinta yang tercampur dengan kebingungan. Sayub-sayub selendang perjalananku merangkai pertanyaan, mengapa sang Guru besar mengatakan 'aku adalah tulang rusuk dari sang kekasih jiwa' lalu, apakah adinda ini tulang rusukmu yang terbuang?? dan menjadi serpihan-serpihan, laksana perahu diatas air, TUMPAH! perahu miring, berjalan goyang dengan ombak menerjang. "Aku..terbang dan terjatuh".
Apa aku harus kembali kebawah pohon Randu dengan rasa kalah dan malu?.
Puisi Rindu

Dirimu laksana jala yang menangkap lintasan-lintasan pikiran dan perasaanku
Setiap kali selalu terbetik tentangmu dipikiranku
Biarlah aku mengelilingi bumi bak matahari yang membisikkan pada bunga-bunga
dengan suara sayup-sayup diatas debu
dan biarlah angin menjadi tembang dan instrumen laguku
Sang kekasih pergi lagi. .
"Kekasih, dimanakah pusaka cintamu untuk dinikmati sang selendang yang lapuk oleh malam ?"
wajahku bagai upacara kematian tanpamu
Aku hanya dapat mencurah tetes-tetes kerinduan yang aku tidak bisa tidur karenanya
Jiwaku telah kujaga
menunggu kekasih pulang memotong pasir berpadang sendirian, berkendara malam
10/11/2008
"pertemuan"
Setelah seharian aku puas tertidur dan beristirahat dari lelah sepanjang perjalanan Jakarta-Kediri aku mulai tersadar dan langsung bergegas, aku tak ingin menyia-nyiakan waktu yang sedikit ini.
Senja ini aku bagitu rapi, didepan cermin aku lihat wajahku hmm dan sepertinya sudah rapi. Aku memang sengaja dandan secantik mungkin untuk bersiap-siap menemui seseorang. Aku pilih setelan baju warna hitam nan cantik, tak lupa aku rol rambutku agar terlihat lebih rapi, juga tak lupa aku semprotkan parfum dengan aroma feminin pemberian mama. Sekali lagi aku bercermin dan ok! Semua tampak sempurna..tinggal memilih sendal ynag cocok, tak lupa sebelum berangkat aku memotong sekuntum bunga mawar didepan rumah untuk aku persembahkan pada seseorang itu.
Sepanjang jalan motorku melaju begitu lamban, aku sengaja karena ingin menikmati udara yang segar dan langit yang begitu cerah, hmm rasanya sudah lama sekali tak menghirup udara sebersih ini. Aku melewati sepanjang jalan yang begitu banyak kenangan masa kecilku..pohon-pohon tinggi yang tumbuh sejalan denganku, sebuah buk –penutup jalan untuk air sungai- dimana aku dan teman-teman kecilku menghabiskan waktu menunggu buka puasa setelah mengaji, dan jalan yang kulihat makin menyempit ini karena sawah-sawah milik penduduk sepertinya semakin melebar kejalan setapak ini. Sepanjang jalan pikiranku menerawang kebeberapa tahun lalu, sekarang memang tak banyak yang berubah dari tempat ini hanya yang tadinya jalan setapak menjadi sedikit bebatuan karena jalan didepan rumah akan diaspal, dan aku rasa satu-satunya yang sangat berubah adalah aku tak punya teman lagi disini, entah kemana sahabat-sahabat kecilku itu, katanya mereka sudah pada ikut suami masing-masing dan mengurus anak mereka *aku tersenyum saat ada yang mengatakan seperti itu.
Tanpa terasa aku sudah sampai pada tempat yang aku tuju untuk menemui seseorang. Aku mulai memakirkan motorku, semua tampak penuh debu ketika aku menyusuri setiap langkahku, aku mulai bingung ada yang berubah meskipun aku sangat ingat dimana tempatnya, sampai aku temukan warna kesukaanya menjadi warna rumahnya sekarang. Setelah aku temukan aku duduk didepanya, aku persembahkan sekuntum mawar merah yang aku bawa, “ tadinya aku ingin membawa satu ikat mawar Pa tapi mawar didepan rumah belum banyak yang berbunga, melatinya juga demikian karena hujan belum turun..maaf ya Pa”. Sejenak aku diam dan mulai berbicara lagi “Papa apa kabar? Sudah lama sekali kita enggak ngobrol, maafkan setahun yang lalu adek nggak nengokin Papa, kadang-kadang datang kesini bukan suatu jawaban untuk rasa kangen adek, justru membuat segalanya semkain rapuh, Papa pasti mengerti”. Ah..begitu banyak yang aku ingin ceritakan sama Papa, tentang pekerjaan, pengalaman-pengalamanku, teman, juga belahan hatiku. Rasanya ingin meminta banyak pendapat juga dari Papa. “ Pa, aku sangat mencintai Papa dan entah bagaimana cara untuk mengungkapkannya, terkadang rasa kangen ini terasa begitu sangat berat untuk ditanggung, maaf aku menangis setiap kali datang kesini meski katanya itu tak boleh tapi aku rasa Papa akan mengerti. Aku harusnya juga malu setiap datang kesini selalu meminta maaf sama Papa, untuk banyak hal aku mungkin membuat kecewa Papa, aku merasa belum menjadi apa-apa dan terlalu banyak kesalahan yang aku buat, tapi aku harap Papa tetap mencintaiku dengan segala apa adanya, seperti aku sangat mencintai Papa, *rasanya sangat ingin dipeluk Papa saat ini, andai Tuhan mengijinkan sebentar saja* . Semakin lama aku dia disini akan kambuh lagi penyakit lamaku, SESAK. “Pa aku pamit dulu ya, karena aku bingung terlalu bnayak yang ingin aku sampaikan tapi toh Papa hanya diam saja, berdoa untuk Papa dari jauh akan sama saja kan? nanti menjelang lebaran aku akan datang lagi..”
Sambil menaha air mata aku menuju motorku, aku rasa aku sudah sangat siap untuk banyak bercerita kepada Papa lagi tapi nyatanya selalu sama, semakin lama disini semakin membuatku kehilangan kekuatan. Aku mulai menstarter motorku dan kembali kerumah seiring dengan senja.
Senja ini aku bagitu rapi, didepan cermin aku lihat wajahku hmm dan sepertinya sudah rapi. Aku memang sengaja dandan secantik mungkin untuk bersiap-siap menemui seseorang. Aku pilih setelan baju warna hitam nan cantik, tak lupa aku rol rambutku agar terlihat lebih rapi, juga tak lupa aku semprotkan parfum dengan aroma feminin pemberian mama. Sekali lagi aku bercermin dan ok! Semua tampak sempurna..tinggal memilih sendal ynag cocok, tak lupa sebelum berangkat aku memotong sekuntum bunga mawar didepan rumah untuk aku persembahkan pada seseorang itu.
Sepanjang jalan motorku melaju begitu lamban, aku sengaja karena ingin menikmati udara yang segar dan langit yang begitu cerah, hmm rasanya sudah lama sekali tak menghirup udara sebersih ini. Aku melewati sepanjang jalan yang begitu banyak kenangan masa kecilku..pohon-pohon tinggi yang tumbuh sejalan denganku, sebuah buk –penutup jalan untuk air sungai- dimana aku dan teman-teman kecilku menghabiskan waktu menunggu buka puasa setelah mengaji, dan jalan yang kulihat makin menyempit ini karena sawah-sawah milik penduduk sepertinya semakin melebar kejalan setapak ini. Sepanjang jalan pikiranku menerawang kebeberapa tahun lalu, sekarang memang tak banyak yang berubah dari tempat ini hanya yang tadinya jalan setapak menjadi sedikit bebatuan karena jalan didepan rumah akan diaspal, dan aku rasa satu-satunya yang sangat berubah adalah aku tak punya teman lagi disini, entah kemana sahabat-sahabat kecilku itu, katanya mereka sudah pada ikut suami masing-masing dan mengurus anak mereka *aku tersenyum saat ada yang mengatakan seperti itu.
Tanpa terasa aku sudah sampai pada tempat yang aku tuju untuk menemui seseorang. Aku mulai memakirkan motorku, semua tampak penuh debu ketika aku menyusuri setiap langkahku, aku mulai bingung ada yang berubah meskipun aku sangat ingat dimana tempatnya, sampai aku temukan warna kesukaanya menjadi warna rumahnya sekarang. Setelah aku temukan aku duduk didepanya, aku persembahkan sekuntum mawar merah yang aku bawa, “ tadinya aku ingin membawa satu ikat mawar Pa tapi mawar didepan rumah belum banyak yang berbunga, melatinya juga demikian karena hujan belum turun..maaf ya Pa”. Sejenak aku diam dan mulai berbicara lagi “Papa apa kabar? Sudah lama sekali kita enggak ngobrol, maafkan setahun yang lalu adek nggak nengokin Papa, kadang-kadang datang kesini bukan suatu jawaban untuk rasa kangen adek, justru membuat segalanya semkain rapuh, Papa pasti mengerti”. Ah..begitu banyak yang aku ingin ceritakan sama Papa, tentang pekerjaan, pengalaman-pengalamanku, teman, juga belahan hatiku. Rasanya ingin meminta banyak pendapat juga dari Papa. “ Pa, aku sangat mencintai Papa dan entah bagaimana cara untuk mengungkapkannya, terkadang rasa kangen ini terasa begitu sangat berat untuk ditanggung, maaf aku menangis setiap kali datang kesini meski katanya itu tak boleh tapi aku rasa Papa akan mengerti. Aku harusnya juga malu setiap datang kesini selalu meminta maaf sama Papa, untuk banyak hal aku mungkin membuat kecewa Papa, aku merasa belum menjadi apa-apa dan terlalu banyak kesalahan yang aku buat, tapi aku harap Papa tetap mencintaiku dengan segala apa adanya, seperti aku sangat mencintai Papa, *rasanya sangat ingin dipeluk Papa saat ini, andai Tuhan mengijinkan sebentar saja* . Semakin lama aku dia disini akan kambuh lagi penyakit lamaku, SESAK. “Pa aku pamit dulu ya, karena aku bingung terlalu bnayak yang ingin aku sampaikan tapi toh Papa hanya diam saja, berdoa untuk Papa dari jauh akan sama saja kan? nanti menjelang lebaran aku akan datang lagi..”
Sambil menaha air mata aku menuju motorku, aku rasa aku sudah sangat siap untuk banyak bercerita kepada Papa lagi tapi nyatanya selalu sama, semakin lama disini semakin membuatku kehilangan kekuatan. Aku mulai menstarter motorku dan kembali kerumah seiring dengan senja.
9/21/2008
Inspirasi Mbah Mardi & Mbah Ginem
Hmmm sebelum memulai menuliskan uneg-uneg ini ada baiknya jika aku menjelaskan sedikit tentang perubahan blog ini, seputar blog yang aku tulis tentunya. Aku ingin memulai mengkhususkan tulisan blog ini tentang berbagai pengalaman hidup, bukan berarti tentang hal lain mulai tidak penting bagiku...soal cinta, gaya hidup dan bla bla bla tentunya sudah banyak dituliskan orang lain. Disini aku juga tidak ingin sesuatu hal yang nampak heboh apalagi saling berlomba-lomba menghias blog, berkomentar dan yang lainnya. Blog ini aku dedikasikan terutama pada diri sendiri sebagai pengingat bahwa hidup yang aku miliki sangatlah lebih dari cukup dan patut disyukuri.
Tentu saja hidup yang aku miliki sangat patut untuk disyukuri, berulang kali mengingat kadangkala betapa sombongnya dan tak pernah merasa cukup atas apa yang aku dapat, apalagi ketika melihat kekanan dan kekiri, sekeliling selalu nampak bergelimang. Gaya hidup manusia modern yang serba kurang dengan adanya hal-hal baru dan masih banyak lainnya, hingga kadang-kadang lupa bahwa jauh dibelakang sana masih banyak sodara-sodara ku yang masih sangat kekurangan dalam hidupnya. Saat melihat kisah hidup sepasang manusia yang telah lanjut usia, Mbah Mardi dan Mbah Ginem tanpa terasa air mataku tak bisa ditahan, dengan usia yang tak muda lagi mereka harus tetap berjuang untuk hidupnya, sangat berseberangan dengan gaya hidup seorang eyang yang kaya raya -ini hanya sebuah perbandingan disisa hidup mereka yang dihabiskan untuk berjalan-jalan keliling dunia, memburu barang koleksi atau sekedar mengecek beribu-ribu anak perusahaan, ya ini memang bukan sebuah kesalahan karena hidup, rejeki,jodoh dan mati sudah ada yang mengatur, hanya saja disini aku ingin menggambarkan bahwa kadang-kadang nasib dan keberadaan itu terlihat tak adil (terilhat bukan berarti bukan).
Mbah Mardi hanyalah pembuat cobek, bayangkan cobek yang terlihat sepele dan murah itu harus dibuat dari batu yang berasal dari bukit-bukit batu yang jaraknya berkilo-kilo meter dari rumahnya, panas terik tak membuat semangat itu menyerah, dengan sebuah linggis besi dimulailah memecah sampai memahat batu tersebut menjadi cobek. Diusianya yang rentan itu sehari hanya mampu menghasilkan 2 sampai 3 cobek, ketika cobek itu selesai maka Mbah Ginem yang menjualnya ke pasar, denga menggendong cobek batu dan berjalan kepasar yang jaraknya tentu saja tidak dekat Mbah Ginem hanya memperoleh uang 11 ribu, hhhmmm uang segitu terasa tak sebanding dengan waktu tenaga dan perjuangan membuat cobek tersebut. Bila diingat dalam sehari aku bisa membuang uang 10 ribu hanya untuk membeli sebuah minuman ringan, atau membeli pulsa, hhhmm aku menyebutna nilai uang yang sedikit.
Mbah Mardi dan Mbah Ginem tak mampu membeli beras, sehingga mereka makan hanya dengan tiwul - tiwul adalah makanan yang terbuat dari singkong yang dikeringkan- bagi kita makan tiwul memang enak karena kita menyebutnya camilan, tapi bagi mereka itu adalah makanan pokok yang dikonsumsi setiap hari, jadi dimana gizinya? kehidupan Mbah Mardi dan Mbah Ginem hampir tak bisa dibedakan dengan hidup pada masa zaman penjajahan. Melihat ini hatiku kelu, bagaimana tidak..setiap hari aku bisa dengan mudah membeli makanan yang aku inginkan, bisa sekali mengeluarkan lembar puluhan ribu hanya untuk satu jenis makanan atau sekedar minum kopi dan tragisnya makanan itu cenderung tak habis aku makan dan akhirnya aku buang, ah betapa buruknya kebiasaanku.
Mbah Mardi dan Mbah Ginem memang tampak mensyukuri hidupnya sepertinya hidupnya tanpa banyak keluhan, tak sepertiku yang terlalu banyak betenya karena kurang ini itulah, satu handphone tak cukup, tak ada internet kelimpungan, anyak baju masih saja kurang..hhhhh hadoohhh parahlah.
Insya Allah dengan melihat pengalaman hidup Mbah Mardi dan Mbah Ginem hidup dan kebiasaanku semakin membaik, terimakasih Mbah Mardi dan Mbah Ginem.
Semoga Allah selalu menjaga.
Langganan:
Postingan (Atom)